Senin, 24 Februari 2014

Percakapan yang Terendap

Ayo sini , bareng aku! Suruh mu.

Nggak ah! Jawab ku.

---
Kamu dimana? Tanya mu.

Aku di luar. Kenapa? Jawab ku.

Aku mau ke kosmu. Kamu kemana keluar? Tanya mu.

Adalah. Keluar bentar. 15 menit lagi aku pulang. Jawab ku.

Oke. 19.15 aku sampek kosmu. Jawab mu.

---
Mana tulisan mu? Ini? Tanya mu.

Iya. Kenapa? Tanya ku.

Ini mah umum. Dari judulnya aja orang udah tau isi tulisanmu. 
Kamu nggak bisa buat yang lebih unik? Nih, kaya temen mu. Dia bisa.  Olok mu.

Nggak. Cuman ini yang melintas di pikiranku. Jawab ku.

Aku tau kamu bisa. Jawab mu.

---

Oh, pas kamu bilang latian itu latian kendo? Tanya mu.

Iya. Kenapa? Tanya ku.

Kalo tanding harus menang ya! Jawab mu.

---

Kamu nggak kesini? Tanya mu.

Bentar, masih jalan. Jawab ku.

Kamu itu sama siapa? Tanya mu.

Sendiri. Jawab ku.

Kamu naik apa? Tanya mu.

Jalan kaki. Jawab ku

---

Selalu ingin menjawab lebih panjang, tapi hati ku yang tak mengijinkan. Hatiku takut kalau-kalau Tuannya pupus, pupus arangnya.

Tidak Pernah Lupa

Kalian Mirip! ! !

Aku tersenyum
Aku menoleh pada mu
Ternyata kamu
juga tersenyum
Tapi senyumku beda
Senyumku dari hati
Senyum mu?
Entah siapa gerangan yang tahu

Cara memanggilmu
Cara bicaramu
Cara sok pintar mu mengguruiku
Cara kelakarmu
Semuanya aku ingat
Tidak ada yang terlupa

Caraku memanggilmu
Caraku bicara padamu
Caraku sok pintar mengguruimu
Caraku kelakar
Semuanya apa kamu ingat?
Tidak adakah satu pun yang masih kamu ingat?
Entah siapa gerangan yang tahu

Yang pasti
Aku tidak pernah lupa
Semua cara mu
padaku

Minggu, 23 Februari 2014

Aku Tahu, Hatiku Tak Mau Tahu

Aku Tahu
Hatimu sudah berpunya
Tapi hatiku yang tak mau tahu

Aku Tahu
Matamu sudah berpunya
Tapi hatiku yang tak mau tahu

Aku Tahu
seluruh tubuhmu sudah berpunya
Tapi hatiku yang tak mau tahu

Semua tentang mu aku tahu
Tidak ada yang aku tidak tahu
Tapi hatiku lagi-lagi yang tak mau tahu

Semoga ke-tidak mau tahu-an hatiku membuatmu tahu kelak
Bahwa aku
Jatuh cinta
Padamu

Rabu, 19 Februari 2014

Srikandi Pattimura (Part 1)

Lima belas menit sudah kami menunggu beliau, dosen baru dari mata kuliah baru di semester yang baru pula, Ekonomi Pembangunan Pertanian. Dari balik pintu kami mendengar suara sepatu yang kian mendekat dan cklek! Orang yang kami tunggu-tunggu pun akhirnya datang juga. Seperti pada umumnya perkuliahan pada awal semester, pertemuan pertama selalu digunakan dosen untuk menyampaikan apapun mengenai dirinya dan sistem kelasnya, serta berkenalan dengan kami, para mahasiswa barunya yang siap membuat repot beliau selama 6 bulan ke depan.

Ada hal berbeda yang menarik perhatian saya terhadap beliau, Ibu Nida namanya. Untuk nama lengkapnya saya kurang begitu tahu. Pertama mengucap salam saya sudah tau jika beliau bukan orang Jawa. Logat Indonesia timurnya terdengar sangat kental. Beberapa kali saya kerap tidak mengerti apa yang sedang beliau katakan, gaya bicaranya terlampau cepat dan sesekali menghilangkan satu atau dua kata yang seharusnya menjadi kata penghubung kalimat-kalimat yang beliau lontarkan. Orang ini bukan orang sembarangan. Daya berpikirnya 5 kali lebih cepat dari daya bicaranya untuk mengeluarkan semua kata-kata yang ada didalam benaknya. Tipikal orang cerdas.

Belum selesai saya menerka-nerka siapa sebenarnya sosok dosen di hadapan saya ini, terdengar kata-kata keras, KAMU JANGAN SOK TAHU YA JADI MAHASISWA! HATI-HATI KAMU DENGAN SAYA! seketika saya terperanjat dan shing! Buyar sudah lamunan saya. Semua mata tertuju pada teman saya, Arif, Muhammad Arif lengkapnya. Saya biasa memanggilnya dengan sebutan Bang Arif. Entah apa yang sudah ia katakan sehingga Ibu Nida bisa melontarkan kata-kata seperti itu. Tentu saya tidak berani bertanya apa yang baru saja terjadi kepada teman disamping saya, karena setelah mendengar kata keras itu seisi kelas semua terdiam. Hening. Saya berani jamin orang kebelet pun akan lebih memilih diam dan menahan rasa kebeletnya ketimbang harus memberanikan diri mengacungkan tangan hanya untuk sekedar meminta izin ke belakang. Dua pasang mata itu pun saling beradu pandang.


---

Senin, 17 Februari 2014

Cool Kid

Sipit, putih, alis tebel, bibir kecil nan menggemaskan, menggoda siapa saja orang yang melihat untuk mendaratkan sebuah kecupan di bibir kecilnya. Itu kesan pertama adek gue yang gue dengar dari mama lewat telepon.

Bisa dibayangkan, setelah sekian lama gue sendiri, setelah 17 tahun gue jadi anak tunggal tiba-tiba sesosok bocah tampan terlahir di muka bumi ini menggeser posisi 'terindah' gue. Antara seneng dan sedih bedanya tipiiiis banget. Gimana nggak tipis, mau nggak mau gue harus jadi kakak dia dan mau nggak mau pula gue jadi punya saingan. Nggak rela memang awalnya kalo cinta orang tua gue musti terbagi sama adek. Tapi lama kelamaan gue menikmati diri gue yang baru yang ber-status sebagai seorang kakak dan sekarang entah kenapa keadaannya jadi berbalik. Gue bener-bener sayaaaaang banget sama adek gue. Hidup terasa hampa tanpa adek gue disisi.




Gue, kakak terkece sedunia, disamping gue, adek tersegalanya seduniaaa x)

Mungkin ini yang namanya saudara. Mereka dilahirkan sejatinya  bukan untuk menggeser posisi strategis kita sebagai anak tunggal yang notabene dimanja, bukan untuk berebut kasih sayang dan cinta dari orang tua, tetapi lebih untuk saling mencintai, menemani, dan melengkapi satu sama lain. Gue sekarang paham apa arti kehadiran adek gue ditengah-tengah keluarga kecil gue. Always missing you, kids**