Rabu, 19 Februari 2014

Srikandi Pattimura (Part 1)

Lima belas menit sudah kami menunggu beliau, dosen baru dari mata kuliah baru di semester yang baru pula, Ekonomi Pembangunan Pertanian. Dari balik pintu kami mendengar suara sepatu yang kian mendekat dan cklek! Orang yang kami tunggu-tunggu pun akhirnya datang juga. Seperti pada umumnya perkuliahan pada awal semester, pertemuan pertama selalu digunakan dosen untuk menyampaikan apapun mengenai dirinya dan sistem kelasnya, serta berkenalan dengan kami, para mahasiswa barunya yang siap membuat repot beliau selama 6 bulan ke depan.

Ada hal berbeda yang menarik perhatian saya terhadap beliau, Ibu Nida namanya. Untuk nama lengkapnya saya kurang begitu tahu. Pertama mengucap salam saya sudah tau jika beliau bukan orang Jawa. Logat Indonesia timurnya terdengar sangat kental. Beberapa kali saya kerap tidak mengerti apa yang sedang beliau katakan, gaya bicaranya terlampau cepat dan sesekali menghilangkan satu atau dua kata yang seharusnya menjadi kata penghubung kalimat-kalimat yang beliau lontarkan. Orang ini bukan orang sembarangan. Daya berpikirnya 5 kali lebih cepat dari daya bicaranya untuk mengeluarkan semua kata-kata yang ada didalam benaknya. Tipikal orang cerdas.

Belum selesai saya menerka-nerka siapa sebenarnya sosok dosen di hadapan saya ini, terdengar kata-kata keras, KAMU JANGAN SOK TAHU YA JADI MAHASISWA! HATI-HATI KAMU DENGAN SAYA! seketika saya terperanjat dan shing! Buyar sudah lamunan saya. Semua mata tertuju pada teman saya, Arif, Muhammad Arif lengkapnya. Saya biasa memanggilnya dengan sebutan Bang Arif. Entah apa yang sudah ia katakan sehingga Ibu Nida bisa melontarkan kata-kata seperti itu. Tentu saya tidak berani bertanya apa yang baru saja terjadi kepada teman disamping saya, karena setelah mendengar kata keras itu seisi kelas semua terdiam. Hening. Saya berani jamin orang kebelet pun akan lebih memilih diam dan menahan rasa kebeletnya ketimbang harus memberanikan diri mengacungkan tangan hanya untuk sekedar meminta izin ke belakang. Dua pasang mata itu pun saling beradu pandang.


---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar