Senin, 17 Februari 2014

Cool Kid

Sipit, putih, alis tebel, bibir kecil nan menggemaskan, menggoda siapa saja orang yang melihat untuk mendaratkan sebuah kecupan di bibir kecilnya. Itu kesan pertama adek gue yang gue dengar dari mama lewat telepon.

Bisa dibayangkan, setelah sekian lama gue sendiri, setelah 17 tahun gue jadi anak tunggal tiba-tiba sesosok bocah tampan terlahir di muka bumi ini menggeser posisi 'terindah' gue. Antara seneng dan sedih bedanya tipiiiis banget. Gimana nggak tipis, mau nggak mau gue harus jadi kakak dia dan mau nggak mau pula gue jadi punya saingan. Nggak rela memang awalnya kalo cinta orang tua gue musti terbagi sama adek. Tapi lama kelamaan gue menikmati diri gue yang baru yang ber-status sebagai seorang kakak dan sekarang entah kenapa keadaannya jadi berbalik. Gue bener-bener sayaaaaang banget sama adek gue. Hidup terasa hampa tanpa adek gue disisi.




Gue, kakak terkece sedunia, disamping gue, adek tersegalanya seduniaaa x)

Mungkin ini yang namanya saudara. Mereka dilahirkan sejatinya  bukan untuk menggeser posisi strategis kita sebagai anak tunggal yang notabene dimanja, bukan untuk berebut kasih sayang dan cinta dari orang tua, tetapi lebih untuk saling mencintai, menemani, dan melengkapi satu sama lain. Gue sekarang paham apa arti kehadiran adek gue ditengah-tengah keluarga kecil gue. Always missing you, kids**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar